MAKALAH FILSAFAT UMUM FILSAFAT ILMU


MAKALAH
FILSAFAT UMUM
FILSAFAT ILMU

Makalah ini disusun untuk memenuhisalahsatu tugas kelompok
Padamatakuliahfilsafat ilmu
Dosen pengampu:

Disusun Oleh

JurusanTarbiyah
Program Studi:PendidikanBahasaArab
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM  NEGERI ( STAIN )
JURAI SIWO METRO
TA. 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah rahmat petunjuk dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan  penulisan  makalah  ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.
Adapun Penulisan Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas Filsafat Umum. Dalam kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih khususnya kepada :
  1. DosenmatakuliahFilsafat UmumDian Eka Priantoro, M.Pd.
  2. Semua rekan-rekan yang memberikan motivasi sehingga dapat menyelesaikan tugas kelompok ini.
  3. Atasnamakelompok 2 selaku Penulis dan pembuat Makalah ini. Dan untuk teman teman yang lain yang tergabung dalam kelas “Pendidikan Bahasa Arab A”
Akhir harapan penulis adalah semoga makalah ini dapat bermanfaat, bagi penulis serta para pembaca makalah ini.

Metro, 09 Oktober 2014
Kelompok






DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL..................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................. 1

A.   Latar Belakang Masalah.............................................. ..... 1
B.   Rumusan Masalah........................................................ ..... 2

BAB II PEMBAHASAN......................................................... ..... 3
A.   Penggunaan Dan Fungsi Tanda Baca.......................... ..... 3
B.   Penulisan Huruf Kapital Yang Tepat.......................... ... 10

BAB III PENUTUP..................................................................... 20
KESIMPULAN........................................................................... 20
Daftar pustaka

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Disadari atau tidak, penggunaan bahasa akan berubah sesuai dengan kebutuhan penuturnya.Sebagai contoh, bahasa yang digunakan saat seseorang berpidato atau berceramah dalam sebuah seminarakan berbeda dengan bahasa yang digunakannya saat mengobrol atau bercengkrama dengan keluarganya.Bahasa itu akan berubah lagi saat ia menawar atau membeli sayuran di pasar. Kesesuaian antara bahasa danpemakaiannya ini disebut ragam bahasa. Dalam penggunaan bahasa (Indonesia) dikenal berbagai macamragam bahasa dengan pembagiannya masing-masing, seperti ragam formal-semi formal-nonformal; ujarantulisan;jurnalistik; iklan; populer dan ilmiah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) dijelaskan bahwa ilmiah adalah bersifat ilmu;secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Dari pengertian tersebut dapatdisimpulkan bahwa karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang bersifat keilmuan. Sifat keilmuan ini terlihatpula dalam penggunaan bahasanya. Ragam bahasa yang digunakan dalam sebuah karya tulis ilmiah adalahragam bahasa ilmiah.Ragam bahasa ilmiah merupakan bahasa dalam dunia pendidikan. Karena penuturragam bahasa ini adalah orang yang berpendidikan, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipelajaridi sekolah/institusi pendidikan. Ragam bahasa ini dikenal pula dengan istilah ragam bahasa baku/standar.Menurut Hasan Alwi dkk. (2003: 13—14), ragam bahasa ini memiliki dua ciri, yaitu kemantapan dinamisdan kecendikiawan. Kemantapan dinamis berarti aturan dalam ragam bahasa ini telah berlaku denganmantap, tetapi bahasa ini tetap terbuka terhadap perubahan (terutama dalam kosakata dan istilah). Cirikecendikiawan terlihat dalam penataan penggunaan bahasa secara teratur, logis, dan masuk akal. Ragambahasa ini bersifat kaku dan terikat pada aturan-aturan bahasa yang berlaku.Sebagai bahasa baku, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi dalampenggunaan ragambahasa ilmiah. Standar tersebut meliputi penggunaan tata bahasa dan ejaan bahasa Indonesia baku. Tatabahasa Indonesia yang baku meliputi penggunaan kata, kalimat, dan paragraf yang sesuai dengan kaidahbaku. Kaidah tata bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah tata bahasa Indonesia sesuai dengan aturanberbahasa yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia. Sementara itu, kaidah ejaan bahasa Indonesia yangbaku adalah kaidah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Sesuai dengan ragam bahasanya, aturan-aturanini mengikat penggunaan bahasa dalam karya tulis ilmiah.
* Pegawai Pada PDII-LIPI
Karya tulis ilmiah terbagi menjadi enam jenis, yaitu skripsi, tesis, disertasi (tugas akhir dalampendidikan tinggi); laporan penelitian; makalah seminar; artikel ilmiah; makalah; dan laporan eksekutif.Pembahasan karya tulis ilmiah dalam tulisan ini akan difokuskan pada artikel ilmiah. Pemilihan inidilakukan dengan dasar pemikiran artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal/ majalah ilmiah merupakansalah satu bentuk karya tulis ilmiah yang sudah dipublikasikan.

1.2  Rumusan Masalah
Penggunaan bahasa ilmiah diikuti dengan tuntutan mengikuti kaidah tata bahasa dan ejaan bahasaIndonesia yang baku. Namun, ada pula penulis artikel ilmiah yang menggunakan susunan kalimat kurangbaku Ada dua rumusan masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini. Rumusan masalah tersebut adalahbagaimana ciri penggunaan bahasa ilmiah yang baik? Bagaimana implementasi penggunaan tata bahasaIndonesia pada artikel ilmiah?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Ilmu dan Pengetahuan
Difinisi Filsafat Ilmu terdiri dari dua kata,yaitu kata filsafat dan kata ilmu.Masing –masing memiliki makna yang berbeda dan hakikat yang berlainan.Kata filsafat diartikan sebagai pengetahuan tentang kebijaksanaan  (Shopia), prinsip-prinsip mencari kebenaran,atau berfikir rasional-logis,mendalam dan tuntas (radikal) dalam memperoleh kebenaran.Kata filsafat sendiri berasal dari bahasa yunani yang diambil dari akar kata ‘Philos’,yang berarti cinta dan ‘Sophia’ yang berarti kebijaksanaan.
Adapun kata ilmu (Science) diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuat,atau bagian dari pengetahuan. Menurut J.S. Badudu (1996: 528) ilmu adalah: Pertama, diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis, contoh: ilmu agama, berarti pengetahuan tentang ajaran agama atau teologi, ilmu bahasa berarti pengetahuan tentang hal bahasa atau tata  bahasa, linguistik, dan lain –lain. Kedua, ilmu diartikan sebagai kepandaian atau kesaktian. Sebagai contoh dalam penggunaan kata yang kedua ini adalah: ‘sudah lama ia menuntut “ilmu” atau “kesaktian” dari jago tua itu’. Dan orang yang banyak memiliki ilmu pengetahuan mengenai suatu ilmu disebut ’ilmuan’ atau orang yang ahli dalam bidang tertentu.
Sedangkan Maufur (2008: 30), menjelaskan bahwa ilmu adalah se/bagian dari pengetahuan yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu, artinya ilmu tentu saja merupakan pengetahuan, tetapi pengetahuan belum tentu. Karena pengetahuan untuk dapat dikategorikan sebagai ilmu harus memenuhi beberapa persyaratan .
Beberapa syarat yang perlu dipenuhioleh suatu pengertahuan untuk dapat masuk kategori sebagai ilmu pengetahuan, menurut Maufur (2008: 32-34) sistematik, general, rasional, objektif, menggunakan metod tertentu, dan  dapat dipertanggungjawabkan berikut penjelasan dari keenam persyaratan tersebut.
1.      Sistematis, yakni ada urutan dari urutan dari awal hingga awal hingga akhir, dan ada hubungan yang bermakna antara bagian-bagian atau fakta satu dngan fakta lainnya yang tersusun secara runtut. Hubungan yang bersifat sistematik vertikal diusahakan juga dengan saling  mempertemukan, agar didapat kepastian dngan kadar yang tinggi.
2.      General, yaitu keumuman sifatnya yang bisa berlaku di manapun (lintas ruang dan waktu dengan keterbatasannya) berkaitan dengan kadar mutu yang standar. Dapat juga disebut universal,karena dapat dikomunikasikan kapan dan dimanapun, paling tidak di  bumi ini. Semisal hukum-hukum fisika yang berlaku di Amerika, maka berlaku juga di Indonsia, Inggris, Belanda, dan Afrika. Baik untuk saat sekarang maupun yang akan datang, dengan catatatan kondisi-kondisi yang relevan (tempat dan waktu) sama . Akan tetapi, mungkin saja tidak berlaku di planet lain apalagi diluar tata surya kita.
3.      Rasional, maksudnya adalah bahwa ilmu sebagai pengetahuan ilmiah bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika. Pengujian atas pengetahuan ilmiah adalah penalaran yang betul-betul dan perbincangan yang logis tampa melibatkan faktor-faktor nonrasional  seperti emosi sesaat dan  kesenangan pribadi. Dengan demikian, ilmu pengetahuan merpakan hasil pemikiran yang rasional dan memenuhi kaidah-kaidah logika. Kaum rasionalberpandangan bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukanlah yang diturunkan dari dunia pengalaman melainkan dari dunia pikiran,dunia yangkita ketahui dengan metode intuisi rasional adalah dunia nyata.
4.      Objektif, adalah apa adanya mengungkapkan realitas yang sahih bagi siapa saja sesuatu sebagai sasaran yang dijadikan objek untuk diketahui. Suatu pengetahuan disebut objektif bila pengetahuan itu dibimbing, baik pada tahab proses pembentukannya maupun pada tahap sesudah selesai sebagai produk pengetahuan,oleh objek kajian atau penelitian, dan bukan oleh berbagai tipe prasangka dari subjek-subjek tertentu yang termasuk yang melaksanakan pengkajian atau penelitian. Meskipun kita sadari hampir semua yang ada di alam ini merupakan  kesepakatan,yang dipelopori oleh individu-individu atau kelompok yang dipandang memiliki otoritas dalam suatu bidang tertentu,yang kemudian diikuti oleh masyarakat secara luas, Terutama pada hasil penelitian kualitatif,subjektivitas penelitian cukup berpengaruh, sehingga hasilnya sering diragukan.
5.      Menggunakan metode tertentu dalam mempertanyakan objek tertentu,mencari dan menemukan sesuatu sebagai kebenaran, dan secara terus menerus. Karna ilmu pengetahuan akan terus berkembang ketika ditemukan jawaban sekaligus memunculkan pertanyaan susulan,dan terus dicari jawabannya lagi. Demikian seterusnya
6.      Dapat dipertanggungjawabkan dengan menggunakan argumentasi logis rasional, apabila jika telah melalui eksperimen yang berulang kali.
Ada sebagian ahli yang berpandangan bahwa pengetahuan dengan ilmu tidaklah berbeda. Pengetahuan (knowledge) bagi mereka tak ubahnya sebagai ilmu (science), sehingga ilmu dengan pengetahuan tidak berbeda. Sebagian lagi memahami bahwa pengetahuan berbeda dengan ilmu atau ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah. Sebagaimana ditanyakan M. Thoyibi (1994:35), pengetahuan ilmiah tidak lain adalah ‘a higher level’ dalam perangkat  pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita saksikan dalamkehidupan sehari-hari. Sementara dalam Encyclopedia of philosophy, pengetahuan disebutnya sebagai ‘justified true belief , yaknikepercayaan yang benar.sedangkan menurut Amsal Bahtiar (2005),pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Menurut Maufur (2008:26), pengetahuan adalah sesuatu atau semua yang diketahui dan dipahami atas dasar kemampuan kita berpikir, rasa, maupun mengindera, baik diperoleh secara sengaja maupun tidak sengaja pengetahuan meurut Maufur adalah suatu yang diperoleh melalui berpikir, merasa dan mengindera.mengindera yang dimaksud Maufur, bisa dengan cara melakukan penelitian dan observasi, pengamatan yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Selanjudnya, Maufur menjelaskan bahwa pengetahuan-pengetahuan merupakan keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa , baik yang bersifat alamiah, sosial, maupun individual. Dengan demikian, pengetahuan pada dasarnya merupakan keseluruhan penjelasan dan gagasan yang terkandung pada pernyataan-pernyataan berkaitan dengan gejala atau peristiwa yang mengandung fakta.
Sumber ilmu dan sumber pengetahuan menurut Maufur (2008:35) secara umum tidak berbeda , sepanjang telah diformulasikan dan memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai ilmu pengetahuan.
Menurut Jujun S.Suriasumantri (1990:105) pengetahuan pada hakikat hakikatnya merupakan segenab apa yang kita ketahui tentang objek tertentu, termasuk didalamnya adalah ilmu. Dengan demikian, ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya, seperti seni dan agama. Sebab secara antologis ilmu membatasi  diri pada pengkajian objek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia, Sedangkan agama memasuki pula daerah jelajah yang bersifat transendental yang berada diluar pengalaman manusia itu. Sedangkan sisi lain dari pengetahuan mencoba mendeskripsikan sebuah gejala  dengan sepenuh penuh maknanya, sementara ilmu mencoba mengembangkan sebuah hubungan yang bersifat rasional . Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam yang bersifat umum dan impersonal, sementara seni tetap bersifat individual  dan personal, dengan memusatkan perhatiannya pada “pengalaman hidup perorangan “.



B.     Pengetian Filsafat Ilmu
Merumuskan pengetian atau definisi tertentu tidaklah mudah, begitu juga tentang definisi filsafat ilmu. Beberapa ahli telah memberikan definisi tentang filsafat ilmu ini, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Michael V. Berry, filsafat ilmu adalah ‘the study of the inner logic of sciencetific theories, and the  relations between experiment and theory, i,e, of scientific method.” Menurut Berry filsafat  ilmu adalah penelaahan tentang logika intern dan teori-teori ilmiah,dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori,yaknitentang metode ilmiah.Bagi Berry ,filsafat ilmu adalah ilmu yang dipakai untuk menelaah tentang logika, teori-teori ilmiah ,serta upaya pelaksanaannya untuk menghasilkan suatu metode atau teori ilmiah. Dalam ilmu filsafat,logika termasuk bagian ilmu yangdianggap berat dan sulit, perlu latihan dan pemahaman yang serius agar seseorang dapa  memahami logika secara baik dan paripurna. Karna itu, jika seseorang telah menguasai logika dengan baik, maka orang tersebut dianggap telah sampai pada level penguasaan filsafat ilmu yang tinggi.
2.      May Brodbeck, ia memberikan definisi filsafat sebagai : “the ethically and philosophycally neutral analysis,dercription and clarification of the foundations of science “. Filsafat ilmu bagi Brodbeck  adalah suatu analisis netral yang  secara etis dan falsafi, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.bagi brodbeck, ilmu itu harus bisa menganalisis,menggali,mengkaji, dan bahkan melukiskannya sesuatu secara netral, etis, dan filosofis sehingga ilmu itu dapat dimanfaatkan secara benar dan relevan.
3.      Lewis White Beck berpendapat bahwa filsafat ilmu atau philosoph of science adalah ilmu yang mengkaji dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiyah sebagai suatu keseluruhan (“philosophy of science questions and evaluates the menthods of scientific thingking and tries to determine the value and significance of the scientific /interprise as a whole”). Jadi menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu adalah ilmu yang  mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Melalui filsafat ilmu ini kita mampu memahami dan menetapkan akan arti pentingnya usaha ilmiah, pengkajian tentang ilmupengetahuan secara menyeluruh.
4.      Menurut Beerling, filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Filsafat ilmu erat kaitannya dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi, yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengalaman manusia, juga mengenai logika dan metodologi.








BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD) adalah keseluruhan peraturan yang menggambarkan lambang-lambang bunyi bahasa dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang (pemisahan, penggabungan) dalam suatu bahasa. Secara teknis yang dimaksud dengan ejaan ialah penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan tanda baca. Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan ejaan sebagai berikut : ejaan adalah cara atau aturan penulisan kata-kata dengan huruf. Ejaan suatu bahasa tidak hanya berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta bagaimana menempatkan tanda baca dan sebagainya.
Melainkan juga meliputi hal-hal seperti bagaiman menghubungkan kata, baik antara kata dengan imbuhan maupun antara kata dengan kata depan. Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD) adalah ejaan yang resmi dipakai dan digunakan di Indonesia tanggal 9 September 1972. Ejaan ini masih tetap digunakan hingga saat ini. Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD) adalah rangkaian aturan yang wajib digunakan dan ditaati dalam tulisan bahasa Indonesia resmi. Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD) mengatur pedoman untuk pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan.









DAFTAR PUSTAKA
Hidayati, Inoer. 2012. Buku Pintar EYD. Yogyakarta: Indonesia Tera.
Nababan, Diana. 2008. Intisari Bahasa Indonesia untuk SMA. Jakarta: Kawan Pustaka.
Waridah, Ernawati. 2008. EYD dan Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka.
_________. 2009. EYD Plus. Jakarta: Penerbit Limas.
_________. 2007. Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Bumi Aksara.
_________. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAKALAH FILSAFAT UMUM FILSAFAT ILMU"

Post a Comment

/* script Youtube Responsive */